Algoritma Pemrograman Dengan C++


Pengantar

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Dia-lah tulisan ini bisa selesai. Tulisan pertama saya ini membahas mengenai algoritma dalam pemrograman. Mudah –mudahan tulisan ini bisa memberi masukan bagi banyak orang khususnya bagi orang yang mempelajari pemrograman komputer untuk mempermudah mereka dalam membuat sebuah program yang baik.

Dalam membuat sebuah program, ada beberapa hal yang penting, paling tidak menurut saya, yaitu:

  1. Tujuan pembuatan program,
  2. Algoritma,
  3. Bahasa pemrograman itu sendiri

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin membahas mengenai algoritma dalam pemrograman. Hal – hal yang akan disajikan di sini merupakan contoh – contoh program yang ditulis dalam bahasa C++ yang kemudian akan dijelaskan lebih detail. Lebih tepatnya jika saya katakan bahwa tulisan ini merupakan kumpulan contoh algoritma yang pernah dibahas dan cukup “populer” sebagai contoh – contoh algoritma.

Pembahasan yang terdapat disini sebenarnya lebih ditujukan kepada orang – orang yang sudah sedikit mengenal bahasa pemrograman C++ sehingga akan mempermudah dalam memahami konsep algoritma yang dijelaskan di sini.

Sekilas Mengenai Algoritma

Algoritma seperti kata kebanyakan orang, bukanlah sesuatu yang hanya berhubungan dengan dunia komputer saja. Algoritma juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini saya mau membahas contoh yang mungkin kedengaran tidak “lazim” digunakan untuk memberi gambaran mengenai algoritma😀.

Beberapa contoh sederhana mengenai algoritma yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari – hari misalnya:

  1. Memasak mie instant.

Prosesnya sbb: memanaskan air, membuka pembungkus mie instant (tentunya), memasukkan mie ke dalam air, taruh bumbu di piring, angkat mie jika sudah masak, campurkan dengan bumbu yang sudah ada di piring dengan mie, makan…😀 (koq jadi laper? :D)

  1. Menelepon

Prosesnya sbb: angkat telepon, tekan nomor teleponnya:

  • jika diangkat maka mulai berbicara setelah selesai tutup teleponnya
  • jika tidak diangkat, maka tutup teleponnya

Dan masih banyak lagi contoh – contoh sederhana mengenai algoritma yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari.

Algoritma Pemrograman

Sekarang kita mulai membicarakan mengenai algoritma pemrograman. Pertama – tama, akan saya kutip dulu ciri – ciri dari algoritma seperti yang dipaparkan oleh Donald E. Knuth:

  • Algoritma mempunyai awal dan akhir.
  • Setiap langkah harus didefinisikan dengan tepat sehingga tidak memiliki arti ganda (ambigu).
  • Memiliki masukan (input) atau kondisi awal.
  • Memiliki keluaran (output) atau kondisi akhir.
  • Algoritma harus efektif; bila digunakan benar – benar menyelesaikan persoalan.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu setuju dengan hal – hal seperti itu yang terkesan terlalu membatasi. Karena sebenarnya ada banyak cara untuk menghasilkan sesuatu tanpa harus mengikuti aturan yang “baku” / satu aturan saja yang terkesan mengikat, iya kan? Namun jika ada yang mau “bertindak” seperti yang telah dipaparkan di atas, itu sah – sah saja.

Sekarang, kita akan melihat beberapa program, mulai dari yang mudah sampai yang cukup sulit, beserta penjelasannya.

Nilai Terbesar Dari 3 Buah Bilangan

Untuk mencari nilai terbesar dari 3 buah bilangan, dalam C++, kode yang saya gunakan adalah sbb:

#include <iostream>

using namespace std;

void main() {

int a, b, c, d;

cout << “nilai 1: “;

cin >> a;

cout << “nilai 2: “;

cin >> b;

cout << “nilai 3: “;

cin >> d;

c = (a > b ? a : b);

cout << “nilai terbesar adalah : ” << (c > d ? c : d) << “\n”;

}

Logika:

Bandingkan nilai pertama dengan nilai kedua. Kemudian yang lebih besar di antara nilai tersebut di bandingkan dengan nilai berikutnya (nilai ke tiga), sehingga di dapat nilai terbesar di antara ketiga variabel tersebut.

Penjelasan kode:

Seperti yang kita lihat di atas, pertama – tama, kita membuat tiga variabel yaitu, variabel a, b, c, dan d. Kemudian, kita meminta user untuk memasukkan nilai untuk variabel a, b, dan d. Setelah itu, kita membandingkan nilai masing – masing variabel. Disini digunakan variabel c sebagai “alat bantu”. Variabel c sendiri menyimpan nilai terbesar antara variabel a dan b. Kemudian ditampilkan nilai yang terbesar yang didapat setelah membandingkan variabel c dan d.

Jumlah Deret

Yang dimaksud dengan jumlah deret di sini adalah misalnya saja yang diminta adalah 3 suku deret. Maka dikalkulasikan menjadi:

1 – 1/3 + 1/5 – 1/ 7

Perhatikan bahwa dalam proses kalkulasi tersebut tanda + dan – berubah setiap kali dilakukan proses perhitungan. Baiklah, sekarang kita membahas kodenya:

#include <iostream>

using namespace std;

void main () {

int mp = -1;

double satu = 1, ulang = 3;

int masuk;

cout << “masukan nilai : “;

cin >> masuk;

for (int ulang2 = 1; ulang2 <= masuk; ++ulang2) {

satu = satu + ((1 / ulang) * mp);

mp *= -1;

ulang += 2;

}

cout << satu << “\n”;

}

Logika:

Melakukan perhitungan dari suku pertama sampai suku ke – n (jumlah suku yang diminta oleh user). Mungkin yang paling “mengganggu” pemikiran Anda adalah bagaimana cara untuk membuat tanda + dan minus berubah – ubah setiap kali, kan?  Padahal itu bisa saja diatasi hanya dengan mengalikan  -1 dengan -1 sehingga hasilnya bisa menjadi positif , ya kan? Jika sudah begitu, “urusan” berikutnya menjadi beres J.

Penjelasan kode:

Kode di atas juga cukup jelas jika diamati dengan baik. Awalnya kita membuat beberapa “buah” variabel:

  • Yang akan menjadi input bagi / dari user, yaitu masuk
  • Yang akan “menampung” hasil perhitungan, yaitu satu
  • Yang akan menjadi pembagi dan terus dinaikkan nilainya, yaitu ulang
  • Yang akan “merubah” tanda dan jenis perhitungan (dari penjumlahan menjadi pengurangan dan sebaliknya), yaitu mp

Kemudian kita melakukan perulangan dengan menjumlahkan variabel satu yang bernilai 1 (pada awalnya) dengan hasil dari 1 dibagi dengan variabel ulang dimana nilai awalnya adalah 3, dan kemudian ditambah 2 untuk setiap perulangan yang dilakukan kemudian dikalikan dengan variabel mp yang bernilai -1 pada awalnya sehingga menghasilkan perhitungan: 1 –  (1/3).Variabel mp kemudian dikalikan dengan -1 untuk menghasilkan nilai positif sehingga pada perhitungan berikutnya menjadi seperti berikut:

1 – (1/3) + (1/5)

Begitu seterusnya hingga perhitungan mencapai suku ke – n, dan proses perhitungan pun dilakukan sekali lagi dan berhenti. Hasilnya kemudian ditunjukkan oleh variabel satu. Jelas sekali, bukan?

Array

Ok, sekarang, masuk ke “permainan” array. Dalam “permainan” ini, kita akan meminta user untuk memasukkan nomor stambuk yangterdiri atas 7 angka. Masing – masing angka (dari nomor stambuk) tersebut akan disimpan dalam sebuah array yang terdapat variabel a. Nilai dari masing – masing array tersebut akan dikalikan jika nilai tersebut bukan 0 (nol) dan “disimpan dalam sebuah variabel sebut saja x. Kemudian dibuat variabel lain sebut saja b yang memiliki 7 array juga. “Isi” variabel b merupakan hasil dari masing – masing array variabel a ditambah x. Berikut ini kodenya:

#include <iostream>

using namespace std;

void main() {

int a[7], x = 1;

for (int i = 0; i < 7; ++i) {

cout << “nomor ” << i + 1 << “: “;

cin >> a[i];

}

for (int j = 0; j < 7; ++j) {

if (a[j] == 0)

continue;

else {

x *= a[j];

}

}

int b[7];

for (int k = 0; k < 7; ++k) {

b[k] = a[k] + x;

cout << b[k] << “\n”;

}

}

Logika:

Dari semua array (angka – angka) yang ada (sudah dimasukkan), kita melakukan “pencarian”. Jika array tersebut bernilai 0 (nol) maka, array tersebut kita lewati. Jika array tersebut bukan bernilai nol (karena itu tentu saja bernilai lebih dari nol, karena secara logika, tidak ada nomor stambuk yang minus, kan?), maka kita kalikan dengan array berikutnya yang juga tidak bernilai nol. Kemudian setelah itu, kita membuat array lain dari sebuah variabel yang lain (tentunya) untuk “ditempati” masing – masing oleh hasil dari masing – masing array variabel yang satunya ditambah dengan hasil perkalian seluruh nilai tadi.

Penjelasan kode:

Pertama – tama, kita buat sebuah variabel (variabel a) untuk menampung 7 buah array, lalu  variabel x untuk menampung hasil perkalian seluruh array variabel a. Nilai awal x adalah 1, dengan asumsi bahwa tidak ada nomor stambuk yang seluruhnya 0 (nol) (karena klo gitu buat apa dibuatkan nomor stambuk, kan?) sehingga bisa dikalikan dengan seluruh array variabel a dengan memiliki kemungkinan nilai terkecil adalah 1. Lakukan perulangan untuk setiap array variabel a, dengan “menyisipkan” kondisi agar jika nilai array tersebut adalah 0 (nol) maka dilewati (continue), dan apabila nilainya bukan nol, maka dikalikan dengan variabel x. Setelah selesai, dibuat variabel baru dengan array yang sama, yaitu 7. Lalu perulangan dilakukan lagi untuk mengisi semua array tersebut dengan hasil dari x ditambah dengan masing – masing array variabel a.

Segitiga Siku – Siku

Gambar segitiga yang akan dibuat adalah seperti  di bawah ini:

*

**

***

****

*****

******

*******

Seperti yang kita lihat, bahwa terdapat segitiga siku – siku yang dibuat dengan cara membuat simbol “*” mulai dari satu sampai baris ke – n. Misalnya saja, dengan contoh di atas, user ingin menampilkan segitiga dengan jumlah baris 7, maka ditampilkan gambar seperti di atas. Begitu seterusnya. Berikut adalah contoh  kodenya:

#include <iostream>

using namespace std;

void main () {

int segi1;

cout << “”;

cin >> segi1;

for (int j = 1; j <= segi1; ++j) {

for (int i = 1; i <= segi1; ++i) {

if (i <= segi1 – j)

cout << ” “;

else

cout << “*”;

}

cout << “\n”;

}

}

Logika:

Bila diamati baik – baik, akan diketahui bahwa, misalnya, jika ada 7 baris yang diminta, maka ada 6 buah spasi yang dibuat lalu kemudian dicetak tanda asterisk “*”, dan pada baris berikutnya ada 5 buah spasi lalu dicetak dua buah tanda asterisk.  Lalu kemudian pada baris berikutnya ada 4 buah spasi, pada baris berikutnya lagi ada 3 buah spasi, dst. Dapat disimpulkan bahwa jumlah spasi yang dibuat pada baris pertama adalah:

Total baris yang diinginkan – 1

Lalu kemudian pada baris kedua adalah:

Total baris yang diinginkan – 2

Begitu seterusnya.

Dengan demikian diketahui bahwa untuk mecetak spasi menggunakan rumus:

Total baris yang diinginkan – baris yang akan dicetak

Jadi, misalnya baris yang sedang “dikerjakan” adalah baris pertama maka, rumusnya menjadi: total baris yang diinginkan – 1, begitu juga dengan baris kedua menjadi: total baris yang diinginkan – 2, dst. Jika sudah “melewati” keadaan tersebut, dicetak “*”.

Penjelasan kode:

Pada kode di atas, pertama – tama kita membuat sebuah variabel / identifier dengan nama segi1. Dimana segi1, merupakan input dari user untuk menentukan berapa banyak baris segitiga yang akan dicetak. Setelah itu, dilakukan perulangan untuk mencetak banyaknya baris, di sini kita memakai variabel j. Untuk mencetak spasi dan tanda “*” sendiri digunakan variabel i, dengan kondisi:

  • Jika i lebih kecil atau sama dengan segi1 – j, dicetak spasi

Ini karena syarat yang telah dikemukakan sebelumnya, jumlah spasi yang dicetak per baris adalah hasil dari segi1 – j, dimana j adalah baris yang aktual (current) pada saat itu.

  • Jika i lebih besar dari segi1, maka dicetak tanda “*”.

Sebenarnya, jika Anda bisa mengamati dengan cukup seksama, maka Anda akan menemukan bahwa kita selalu mencetak dengan jumlah yang sama. Misalnya jumlah baris yang diinginkan adalah 7, maka sebenarnya dalam setiap baris dari baris pertama sampai baris 7, kita selalu mencetak sebanyak 7 kali pada setiap barisnya. Hanya saja ada “variasi”pada setiap barisnya, yaitu jika dengan dikuranginya segi1 dengan j, maka denga sendirinya jumlah “*” yang tercetak akan semakin banyak dan pada akhirnya sama dengan jumlah baris yang diinginkan. Jadi, cobalah bayangkan bahwa yang kita cetak adalah sebuah persegi / persegi panjang dengan gambaran seperti yang telah disebutkan di atas (bisa, kan? J).

Hal ini terus berlanjut pada setiap baris dan pada ahirnya berhenti pada kondisi dimana j lebih besar dari segi1. Hasilnya dapat Anda lihat pada screen shot berikut:

Baris Ganda

Kali ini Anda diminta untuk membuat / menampilkan berapa banyak baris yang diminta oleh user tapi dengan menggandakan setiap baris yang dicetak di layar. Misalnya, jumlah baris yang diminta adalah 5, maka yang tercetak adalah:

11

2222

333333

44444444

5555555555

Maka kode yang saya buat adalah sebagai berikut:

#include <iostream>

using namespace std;

void main () {

int in;

cout << “banyaknya baris: “;

cin >> in;

for (int i = 1; i <= in; ++ i) {

for (int j = 1; j <= i * 2; ++j) {

cout << i;

}

cout << “\n”;

}

}

Logika:

Logika yang digunakan di sini cukup mirip dengan cara kita mencetak segitiga siku –siku ke layar. Mungkin bisa dibilang ini masih ada “hubungan keluarga” dengan yang tadi J. Disini kita melakukan perulangan untuk mencetak baris yang diminta oleh user. Dalam melakukan perulangan tersebut, kita menampilkan baris yang dicetak pada saat itu. Misalnya jika baris yang sedang dicetak pada saat itu adalah baris kedua, maka yang ditampilkan adalah angka 2. Begitu seterusnya. Perhatikan bahwa angka – angka yang dicetak memiliki sebuah pola. Pada setiap baris yang sedang dicetak pola dari angka –angkanya adalah: baris yang sedang dicetak dikali 2. Misalnya pada baris pertama, jumlah angka / banyaknya  angka yang dicetak adalah 1 X 2 = 2 kali di cetak. Pada baris kedua, banyaknya baris yang di cetak adalah 2 X 2, dst. Hal ini berlanjut sampai baris yang diinginkan oleh user sudah tercetak.

Penjelasan kode:

Pada kode di atas, dibuat variabel untuk menampung berapa banyak baris yang diinginkan oleh user (in), just like usual J. Berdasarkan input dari user tersebut, kita membuat perulangan untuk mencetak baris – baris yang diinginkan user. Dalam perulangan ini, kita “menyisipkan” sebuah perulangan lagi untuk mencetak angka ke layar (dengan menggunakan variabel j). Perulangan ini dilakukan dengan kondisi j lebih kecil atau sama dengan i dikali 2. Dimana, i adalah baris yang sedang dikerjakan dan j adalah berapa banyak perulangan yang dilakukan dalam kondisi j lebih kecil atau sama dengan i.

Berikut ini screen shot-nya:

Menyebut Angka Terbalik

Kita mulai memasuki salah satu bagian favorit saya yaitu “mengkonversi” bilangan menjadi kalimat / kata – kata J. Kita memasuki dulu bagian yang mudahnya, menyebut angka dengan terbalik. Kali ini, kita meminta user untuk mengurangi  bilangan apa pun (yang lebih kecil dari 10.000) dengan 10.000. Misalnya, user memasukkan angka 3456, maka 10.000 – 3.456 tentu saja hasilnya = 6.544, tapi kita mengkonversinya dengan menjadikannya sebagai kalimat tapi dibaca terbalik. Jadi, tampilannya adalah: empat empat lima enam J.

Kodenya adalah:

#include <iostream>

using namespace std;

void sntce (int n) {

switch (n) {

case 1: cout << “satu “; break;

case 2: cout << “dua “; break;

case 3: cout << “tiga “; break;

case 4: cout << “empat “; break;

case 5: cout << “lima “; break;

case 6: cout << “enam “; break;

case 7: cout << “tujuh “; break;

case 8: cout << “delapan “; break;

case 9: cout << “sembilan “; break;

case 0: cout << “nol “; break;

default: break;

}

}

void reverse (int n) {

int zero, mod;

zero = n / 10;

mod = n % 10;

if (zero == 0 && mod == 0)

exit;

else {

sntce (mod);

reverse (zero);

}

}

void main () {

int in, reduce;

const int stay = 10000;

do {

cout << “”;

cin >> in;

} while (in > 10000 || in < 1);

reduce = stay – in;

reverse (reduce);

cout << “\n”;

}

Logika:

Dari input yang dimasukan oleh user, dikurangi dengan 10.000 lalu hasilnya mulai dari angka paling terakhir sampai dengan angka pertama dikonversi ke dalam bentuk angka. Cara untuk “mengambil” angka terakhir adalah dengan mengambil modulo / sisa bagi dari hasil pengurangan tersebut dibagi 10. Misalnya, hasilnya 6544 dibagi 10 tentu saja sisanya adalah 4. Kemudian hasil bulat dari 6544 dibagi 10 yang adalah 654 akan di bagi lagi dengan 10 dan akan menghasilkan angka 4. Dan hasil bulat dari 654 dibagi 10 yang adalah 65 kembali dibagi dengan 10 dan sisanya adalah 5. Kemudian yang terakhir, karena nilai 6 yang disimpan kemudian dibagi 10, dan sisanya pasti 6, maka 6 diambil.

Penjelasan kode:

Pada bagian utama program, kita membuat beberapa variabel: reduce, in, dan stay. Variabel reduce sendiri berguna untuk menampung hasil pengurangan dari stay, yang telah kita beri nilai konstan dari awal yaitu 10.000. Tapi, kita mau mencegah agar user tidak memasukkan angka yang “tidak lazim” misalnya angka 0 atau 10.001 dan seterusnya. Maka,  kita memakai fungsi do…while (ini sebenarnya “favorit” saya, karena saya ingin selalu mencegah input yang tidak normal) dengan “aturan” bahwa tampilan tersebut (“”) akan selalu terulang bila user memasukkan angka yang lebih besar dari 10.000 atau lebih kecil dari 1. Kita lalu memasukkan reduce ke reverse, itulah akhir dari program utama. Lalu, seperti yang kita lihat di atas, ada 2 fungsi yang kita buat sejak awal: sntce dan reverse. sntce berfungsi untuk mengkonversi angka menjadi sebuah kata dengan fungsi switch, yang saya rasa sudah cukup jelas, bahwa jika inputnya (dalam hal ini adalah sisa bagi dari 10.000 dikurangi input dari user kemudian dibagi 10) adalah 1, maka yang ditampilkan adalah kata “satu”, bila 2, maka ditampilkan adalah “dua”, dst. Sedangkan reverse untuk menghitung hasil pengurangan dari 10.000 dikurangi dengan input dari user (in). Di sini kita memakai dua kondisi, yaitu jika hasil bulat dari n (reduce) dibagi 10 sama dengan 0 dan juga sisa bagi  (mod) sama dengan 0 (nol), dan kondisi di luat itu (tentu saja ini berarti bahwa masih ada bilangan yang harus di bagi 10 atau bisa saja masih ada sisa bagi yang harus di masukkan ke sntce). Jika yag terjadi adalah kondisi kedua, kita “melempar” variabel mod ke sntce (udah tau kan fungsinya?) lalu memangil kembali reverse dengan menggunakan zero sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa dibagi dan tidak ada lagi sisa pembagian. Berikut tampilannya:

Menyebut Angka

Ok, akhirnya sampai di sini juga. Program berikut adalah program untuk menyebut angka dalam bentuk kalimat mulai dari 1 sampai jutaan. Misalnya angka 123 menjadi “seratus dua puluh tiga”, dst. Berikut ini salah satu contoh kodenya:

#include <iostream>

using namespace std;

void first (int n) {

switch (n) {

case 1: cout << “satu “; break;

case 2: cout << “dua “; break;

case 3: cout << “tiga “; break;

case 4: cout << “empat “; break;

case 5: cout << “lima “; break;

case 6: cout << “enam “; break;

case 7: cout << “tujuh “; break;

case 8: cout << “delapan “; break;

case 9: cout << “sembilan “; break;

case 10: cout << “sepuluh “; break;

case 11: cout << “sebelas “; break;

default: break;

}

}

void second (int n) {

int bul, sisa;

bul = n / 10;

sisa = n % 10;

if (bul == 0)

first (sisa);

else if (bul == 1) {

if (sisa <= 1)

first (n);

else {

first (sisa);

cout << “belas “;

}

}

else {

first (bul);

cout << “puluh “;

first (sisa);

}

}

void third (int n) {

int bul, sisa;

bul = n / 100;

sisa = n % 100;

if (bul == 0)

second (sisa);

else if (bul == 1) {

if (sisa == 0)

cout << “seratus “;

else {

cout << “seratus “;

second (sisa);

}

}

else {

first (bul);

cout << “ratus “;

second (sisa);

}

}

void fourth (int n) {

int bul, sisa;

bul = n / 1000;

sisa = n % 1000;

if (bul == 0)

third (sisa);

else if (bul == 1) {

if (sisa == 0)

cout << “seribu “;

else {

cout << “seribu “;

third (sisa);

}

}

else {

third (bul);

cout << “ribu “;

third (sisa);

}

}

void fifth (int n) {

int bul, sisa;

bul = n / 1000000;

sisa = n % 1000000;

if (bul == 0)

fourth (sisa);

else if (bul == 1) {

if (sisa == 0)

cout << “satu juta “;

else {

cout << “satu juta “;

fourth (sisa);

}

}

else {

third (bul);

cout << “juta “;

fourth (sisa);

}

}

void main () {

int n = 1;

while (n == 1) {

int num1;

do {

cout << “”;

cin >> num1;

} while (num1 < 1);

fifth (num1);

cout << “\n”;

}

}

Logika:

Kita mau mengetes apakah angka yang dimasukkan adalah jutaan, ribuan, ratusan, puluhan, atau satuan. Karena pada dasarnya hanya itu saja jenis – jenis angka yang ada (tidak termasuk milyaran dan triliunan dan yang lebih besar, karena tipe int tidak dapat menjangkau bilangan – bilangan tersebut).

Pada waktu pertama kali kita “mengetes” bilangan tersebut, kita mencoba menguji:

  1. Apakah bilangan itu adalah jutaan?

Pertama – tama, mungkin ada yang bertanya mengapa bagian ini dimasuki terlebih dahulu? Secara logisnya, dari cara pengucapannya, dalam mengucapkan nama bilangan, tentu saja yang akan diucapan adalah bilangan terbesarnya lalu berurut sampai yang terkecil. Misalnya, 1.234 dibaca seribu dua ratus tiga puluh empat. Maka, dari besarnya angka yang dapat dimasukkan ke dalam program, jutaan merupakan “porsi” yang terbesar. Maka yang paling pertama diuji adalah “apakah bilangan itu adalah jutaan?”.

  • jika tidak, maka bilangan itu dites apakah bilangan itu adalah ribuan.
  • jika ya, maka “bagian jutaan” bilangan itu diterjemahkan ke dalam kata – kata lalu sisanya (ratusan ribu ke bawah) dicek lagi pada fungsi untuk bilangan ribuan.
  1. Apakah bilangan itu ribuan?
  • Jika tidak, maka bilangan itu akan dites apakah bilangan itu adalah ratusan.
  • Jika ya, maka “bagian ribuan” dari bilangan itu diterjemahkan lalu sisanya dimasukkan di bagian ratusan.
  1. Apakah bilangan itu ratusan?
  • Jika tidak, maka bilangan itu akan dites apakah bilangan itu adalah puluhan.
  • Jika ya, maka “bagian ratusan” dari bilangan itu diterjemahkan lalu sisanya dimasukkan ke dalam fungsi puluhan.
  1. Apakah bilangan itu puluhan?
  • Jika tidak, maka bilangan itu akan dimasukkan ke dalam fungsi terakhir, fungsi satuan.
  • Jika  ya, maka “bagian puluhan” dari bilangan itu akan diterjemahkan dan kemudian sisanya dimasukkan ke dalam fungsi satuan.

Penjelasan kode:

Pertama – tama, perlu kita perhatikan bahwa sudah “disiapkan” sebuah perulangan di sana (while). Itu sebenarnya “kerjaaan” saya, yang membuatnya supaya programnya bisa diulang terus menerus (silahkan edit sendiri kalau mau merubahnya) J. Pada fungsi utama, seperti yang kita lihat, kita ingin supaya masukan kita mempunyai nilai paling tidak sama dengan satu. Lalu setelah itu, kita memasukkan input tersebut pada bagian jutaan. Caranya mirip dengan bagaimana kita menerjemahkan angka – angka ke dalam kata – kata. Prosesnya dapat kita lihat pada kondisi – kondisi pada fungsi tersebut.

  • Jika hasil bulat dari pembagian n dengan 1.000.000 adalah 0 (nol), maka bisa dipastikan bahwa n bukanlah bilangan jutaan.
  • Jika hasil bulat dari pembagian n dengan 1.000.000 adalah 1 dan sisanya adalah 0 (nol), maka n pastilah 1.000.000 (satu juta).
  • Jika hasil bulat dari pembagian n dengan 1.000.000 lebih besar dari 1, maka bilangan tersebut pastilah lebih atau sama dengan 2.000.000. Maka hasil bulat pembagian tersebut, dimasukkan ke dalam third (karena nilai maksimal dari bilangan jutaan adalah ratusan juta), lalu di cetak kata “juta ”, dan kemudian sisanya dimasukkan ke dalam fourth (karena ada kemungkinan sisanya bernilai ribuan)

Pada fungsi – fungsi yang lainnya juga dibuat dengan cara seperti itu hingga akhirnya pada bagian satuan dari bilangan tersebut. Hanya saja, jika kita perhatikan pada fungsi second, ada sebuah kondisi dimana jika hasil bulat dari pembagian adalah 1, dan jika sisanya lebih besar dari 1, maka sisanya akan dimasukkan ke dalam first dan selanjutnya di cetak kata “belas ”. Jadi misalnya, angkanya adalah 19, sisanya tentu saja adalah 9. Angka 9 di first, akan menghasilkan kata “sembilan “ di layar. Lalu ditambah dengan kata “belas “, maka hasilnya adalah “sembilan belas “. Jadi, kita tidak usah membuat case untuk “belas – belas” yang lain selain 11 (sebelas), ‘tul ga? J.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s